In Another Life ?

Barangkali memang pernah ada masa ketika dunia terasa begitu kecil, sampai satu insan saja sudah cukup untuk membuat segalanya tampak utuh. Hari-hari berjalan ringan hanya karena keberadaannya ada di sana, pada tawa yang terdengar akrab, pada percakapan-percakapan sederhana yang diam-diam menjadi rumah, pada janji-janji kecil yang saat itu terasa abadi sebab tidak pernah terpikir akan kehilangan.
Namun waktu selalu memiliki caranya sendiri untuk mengubah segala hal tanpa meminta izin. Seperti berjalan perlahan, nyaris tak terdengar. Membawa manusia tumbuh ke arah yang berbeda, menyeret jarak masuk diam-diam di sela kebiasaan yang dulu terasa begitu dekat. Tidak ada perpisahan yang benar-benar dramatis. Tidak ada kalimat terakhir yang cukup jelas untuk disebut sebagai akhir. Hanya keheningan yang datang sedikit demi sedikit, hingga suatu hari tersadar bahwa seseorang yang dulu paling dipahami kini hanya hidup sebagai kenangan di sudut kepala yang jarang disentuh.
Anehnya, dari sekian banyak insan yang datang setelahnya, tidak ada yang mampu menempati ruang yang sama karena ada pertemuan-pertemuan tertentu yang terjadi terlalu tepat, pada waktu yang begitu utuh, hingga bekasnya menetap jauh lebih lama daripada keberadaan orangnya sendiri.
Mungkin ini yang dinamakan salah waktu. Dipertemukan ketika hati masih terlalu muda untuk memahami cara menjaga tanpa melukai. Terlalu keras kepala untuk mengalah. Terlalu sibuk melawan diri sendiri sampai lupa bahwa perasaan juga bisa lelah bila terus dibiarkan berjalan sendirian.
Dan lucunya, semua itu baru dimengerti ketika segalanya telah selesai. Ketika tak ada lagi yang bisa dilakukan selain menerima bahwa beberapa kehilangan memang datang terlambat untuk disesali. Hingga yang tersisa hanyalah pertanyaan-pertanyaan kecil yang hidup diam-diam pada malam hari, saat dunia terlalu sunyi dan kenangan mulai terdengar lebih nyaring daripada kenyataan.
Bagaimana jika dulu tidak sama-sama memilih diam?
Bagaimana jika salah satu bertahan sedikit lebih lama?
Bagaimana jika ego tidak dibiarkan berbicara lebih keras daripada cinta?
Tidak ada jawaban untuk semua kemungkinan itu. Sebab hidup tidak pernah memberi kesempatan untuk kembali pada versi-versi yang gagal diselamatkan. Ia hanya terus berjalan, sementara manusia dipaksa menerima bahwa tidak semua yang saling mencintai ditakdirkan untuk tetap bersama.
Dan tidak semua perpisahan lahir dari hilangnya rasa. Kadang yang menghancurkan justru kesalahpahaman yang dibiarkan tumbuh terlalu besar, kata-kata yang gagal menemukan bentuknya, hingga cara pandang yang perlahan saling bertabrakan sampai tak lagi mampu dipertemukan di titik yang sama.
Lalu waktu memaksa keduanya melanjutkan hidup masing-masing. Belajar terbiasa tanpa kabar yang dulu selalu ada. Belajar menerima bahwa seseorang yang pernah terasa begitu dekat kini hanya bisa ditemui melalui kenangan-kenangan kecil yang datang diam-diam pada malam hari.
Namun beberapa insan memang tidak benar-benar selesai hanya karena cerita telah usai. Ia tetap hidup pada bagian-bagian tertentu dalam diri, pada cara memahami kehilangan, pada hati yang kini lebih hati-hati, pada versi diri yang terbentuk setelah pernah mencintai sedalam itu lalu kehilangannya karena hal-hal yang sebenarnya tidak pernah benar-benar ingin terjadi.
Dan mungkin bagian paling pilu dari semua ini bukan tentang kenyataan bahwa hubungan itu berakhir. Melainkan menyadari bahwa, di semesta lain yang tidak dipenuhi salah paham dan keras kepala, mungkin keduanya masih berjalan berdampingan, tanpa harus saling kehilangan demi menjadi diri sendiri.
Komentar
Posting Komentar