Tidak untuk dimulai, apalagi untuk diselesaikan.
Tak seorangpun mengerti bagaimana harus memberi nama pada perasaannya. Tak berani, mungkin. Atau tak ingin merusak sesuatu yang masih terlalu rapuh untuk disebut apa-apa. Yang ia tahu, setiap kali sosok itu muncul, ada bagian dalam dirinya yang menghangat secara pelan, seolah tak pernah benar-benar padam.
Kisah mereka bahkan tidak pernah dimulai. Tidak ada pengakuan yang membuat dunia berubah warna. Tak ada pula janji yang diikat dengan keberanian dan hanya percakapan-percakapan ringan yang terus terjalin, seperti benang tipis yang tak pernah putus, namun juga tak pernah dirajut menjadi kain.
Mereka saling memberi kabar. Menanyakan hari satu sama lain dengan nada yang cukup peduli, tapi selalu berhenti sebelum menjadi terlalu dalam. Ada tawa yang terasa akrab, ada juga jeda yang terlalu panjang. Seolah keduanya tahu bahwa satu langkah lebih maju akan mengubah segalanya dan tak seorang pun cukup nekat untuk melakukannya. Semakin dewasa, semakin paham bahwa rasa saja tidak membangun apa pun. Perhatian tanpa arah pun hanya akan menjadi kebiasaan. Namun anehnya, ia pun tetap tinggal. Bukan karena tak bisa pergi, melainkan karena tak pernah benar-benar ada yang harus ditinggalkan.
Menunggu pun bukan lagi hal yang paling melelahkan, namun hidup dalam kata “hampir.” Hampir diungkapkan. Hampir dimulai. Hampir dijadikan nyata. Dan di sudut hatinya ada ruang yang tak pernah ditempati sepenuhnya, dan juga tak pernah kosong. Tentang satu pandangan di masa remaja yang tumbuh bersamanya, diam, dan tak pernah selesai.
Maka ia memilih bertahan di ruang yang tak bernama itu. Ruang di mana harapan dan kenyataan duduk berdampingan tanpa saling menyentuh. Ruang di mana ia belajar bahwa tidak semua yang terasa dalam harus berakhir dalam kepastian.
Dan perlahan, semua mulai dimengerti. Mungkin, kisah yang memang hanya berjalan sejauh ini tidak untuk dimulai dan untuk diselesaikan. Melainkan untuk mengajarkannya bagaimana rasanya tumbuh dengan sesuatu yang tak pernah benar-benar menjadi miliknya, namun selalu terasa seperti bagian dari dirinya.

Komentar
Posting Komentar