Api yang Kusebut Cinta
Kau datang, lalu pergi, tanpa pernah benar-benar pamit. Suatu pagi kau ada, mengisi separuh ranjang dan separuh dadaku. Lalu tiba-tiba kau jadi pintu yang tertutup, jadi nomor yang tak terbalas, jadi nama yang kusebut dalam doa tapi tak pernah kusebut dalam percakapan—karena aku sudah lelah menjelaskan kepergianmu pada orang-orang yang menyayangiku.
Aku menghilang bersamamu, setiap kali kau menghilang. Dan ketika kau kembali—selalu kembali, seolah aku ini pelabuhan yang kau pastikan masih ada di peta, aku tidak bertanya kau dari mana. Aku hanya membuka pintu, membiarkan abu masuk lagi ke dalam rumah yang baru saja kubersihkan dari sisa kebakaran terakhir.
Kita akan baik-baik saja, katamu. Dan untuk sementara, aku percaya. Untuk sementara, tanganmu di tanganku terasa seperti permintaan maaf yang tak pernah kau ucapkan. Untuk sementara, aku lupa caranya menghitung berapa kali aku sudah bilang ini yang terakhir.
Sebab begini cara cinta yang sakit bekerja. Seolah ia tidak datang sekali lalu pergi selamanya. Ia datang berulang, dengan wajah yang sama, membawa luka yang sama, hanya dibungkus dengan kata-kata yang berbeda. Dan aku—aku yang katanya sudah belajar—tetap membuka pintu, sebab rindu tidak pernah benar-benar mendengarkan logika.
Orang-orang bilang, pergi saja kalau sakit. Tapi mereka tidak tahu, bagaimana rasanya mencintai seseorang yang adalah luka sekaligus obatnya. Bagaimana rasanya berdiri di tengah reruntuhan, dan masih saja menyebutnya rumah.
Mungkin aku tidak mencintaimu. Mungkin aku hanya mencintai cara aku bertahan, setiap kali kau membakarku habis dan caranya aku, bodoh dan setia, selalu tumbuh lagi dari abu yang sama.

Komentar
Posting Komentar