Tidak untuk dimulai, apalagi untuk diselesaikan.
Tak seorangpun mengerti bagaimana harus memberi nama pada perasaannya. Tak berani, mungkin. Atau tak ingin merusak sesuatu yang masih terlalu rapuh untuk disebut apa-apa. Yang ia tahu, setiap kali sosok itu muncul, ada bagian dalam dirinya yang menghangat secara pelan, seolah tak pernah benar-benar padam. Kisah mereka bahkan tidak pernah dimulai. Tidak ada pengakuan yang membuat dunia berubah warna. Tak ada pula janji yang diikat dengan keberanian dan hanya percakapan-percakapan ringan yang terus terjalin, seperti benang tipis yang tak pernah putus, namun juga tak pernah dirajut menjadi kain. Mereka saling memberi kabar. Menanyakan hari satu sama lain dengan nada yang cukup peduli, tapi selalu berhenti sebelum menjadi terlalu dalam. Ada tawa yang terasa akrab, ada juga jeda yang terlalu panjang. Seolah keduanya tahu bahwa satu langkah lebih maju akan mengubah segalanya dan tak seorang pun cukup nekat untuk melakukannya. Semakin dewasa, semakin paham bahwa rasa saja tidak membangun apa...