Postingan

Api yang Kusebut Cinta

Gambar
  Aku tahu, dari awal aku sudah tahu— kau bukan rumah. Kau lebih mirip api, yang indah dipandang dari jauh, tapi setiap kali aku mendekat, kulitku selalu pulang dengan bekas. Tapi siapa yang bisa menyalahkan ngengat karena jatuh cinta pada cahaya yang membakarnya? Kau datang, lalu pergi, tanpa pernah benar-benar pamit. Suatu pagi kau ada, mengisi separuh ranjang dan separuh dadaku. Lalu tiba-tiba kau jadi pintu yang tertutup, jadi nomor yang tak terbalas, jadi nama yang kusebut dalam doa tapi tak pernah kusebut dalam percakapan—karena aku sudah lelah menjelaskan kepergianmu pada orang-orang yang menyayangiku. Aku menghilang bersamamu, setiap kali kau menghilang. Dan ketika kau kembali—selalu kembali, seolah aku ini pelabuhan yang kau pastikan masih ada di peta, aku tidak bertanya kau dari mana. Aku hanya membuka pintu, membiarkan abu masuk lagi ke dalam rumah yang baru saja kubersihkan dari sisa kebakaran terakhir. Kita akan baik-baik saja, katamu. Dan untuk sementara, aku percaya...

In Another Life ?

Gambar
Barangkali memang pernah ada masa ketika dunia terasa begitu kecil, sampai satu insan saja sudah cukup untuk membuat segalanya tampak utuh. Hari-hari berjalan ringan hanya karena keberadaannya ada di sana, pada tawa yang terdengar akrab, pada percakapan-percakapan sederhana yang diam-diam menjadi rumah, pada janji-janji kecil yang saat itu terasa abadi sebab tidak pernah terpikir akan kehilangan. Namun waktu selalu memiliki caranya sendiri untuk mengubah segala hal tanpa meminta izin. Seperti  berjalan perlahan, nyaris tak terdengar. Membawa manusia tumbuh ke arah yang berbeda, menyeret jarak masuk diam-diam di sela kebiasaan yang dulu terasa begitu dekat. Tidak ada perpisahan yang benar-benar dramatis. Tidak ada kalimat terakhir yang cukup jelas untuk disebut sebagai akhir. Hanya keheningan yang datang sedikit demi sedikit, hingga suatu hari tersadar bahwa seseorang yang dulu paling dipahami kini hanya hidup sebagai kenangan di sudut kepala yang jarang disentuh. Anehnya, dari seki...

Tidak untuk dimulai, apalagi untuk diselesaikan.

Gambar
Tak seorangpun mengerti bagaimana harus memberi nama pada perasaannya. Tak berani, mungkin. Atau tak ingin merusak sesuatu yang masih terlalu rapuh untuk disebut apa-apa. Yang ia tahu, setiap kali sosok itu muncul, ada bagian dalam dirinya yang menghangat secara pelan, seolah tak pernah benar-benar padam. Kisah mereka bahkan tidak pernah dimulai. Tidak ada pengakuan yang membuat dunia berubah warna. Tak ada pula janji yang diikat dengan keberanian dan hanya percakapan-percakapan ringan yang terus terjalin, seperti benang tipis yang tak pernah putus, namun juga tak pernah dirajut menjadi kain. Mereka saling memberi kabar. Menanyakan hari satu sama lain dengan nada yang cukup peduli, tapi selalu berhenti sebelum menjadi terlalu dalam. Ada tawa yang terasa akrab, ada juga jeda yang terlalu panjang. Seolah keduanya tahu bahwa satu langkah lebih maju akan mengubah segalanya dan tak seorang pun cukup nekat untuk melakukannya. Semakin dewasa, semakin paham bahwa rasa saja tidak membangun apa...

Bingung.

Gambar
Terbiasa untuk membuka ruang. Pelan-pelan menaruh hati dan membiarkan kebiasaan tumbuh, memberi waktu dan perhatian tanpa banyak perhitungan. Dari situ, beberapa orang datang. Ada yang singgah lama, ada yang sekadar lewat, ada yang benar-benar berusaha tinggal. Hati ini tidak kosong, tidak tertutup. Ia bekerja sebagaimana mestinya, untuk merasa, berharap, dan memberi. Namun entah kenapa, akhirnya selalu kembali ke titik yang sama . Ada satu nama yang tak pernah benar-benar pergi, meski kehadirannya nyaris tak bisa disebut ada. Seseorang yang berkali-kali mengecewakan, yang tak konsisten, yang lebih sering menghilang daripada bertahan. Aneh rasanya menyadari bahwa hati ini bisa memberi kesempatan pada banyak orang, tapi selalu menyisakan tempat untuk yang satu itu, yang bahkan tak pernah menjanjikan apa-apa selain ketidakpastian. Bukan karena yang lain kurang baik. Justru sebaliknya. Mereka datang dengan niat, dengan usaha, dengan ketulusan yang seharusnya cukup. Tapi hati ini sudah ter...