Api yang Kusebut Cinta
Aku tahu, dari awal aku sudah tahu— kau bukan rumah. Kau lebih mirip api, yang indah dipandang dari jauh, tapi setiap kali aku mendekat, kulitku selalu pulang dengan bekas. Tapi siapa yang bisa menyalahkan ngengat karena jatuh cinta pada cahaya yang membakarnya? Kau datang, lalu pergi, tanpa pernah benar-benar pamit. Suatu pagi kau ada, mengisi separuh ranjang dan separuh dadaku. Lalu tiba-tiba kau jadi pintu yang tertutup, jadi nomor yang tak terbalas, jadi nama yang kusebut dalam doa tapi tak pernah kusebut dalam percakapan—karena aku sudah lelah menjelaskan kepergianmu pada orang-orang yang menyayangiku. Aku menghilang bersamamu, setiap kali kau menghilang. Dan ketika kau kembali—selalu kembali, seolah aku ini pelabuhan yang kau pastikan masih ada di peta, aku tidak bertanya kau dari mana. Aku hanya membuka pintu, membiarkan abu masuk lagi ke dalam rumah yang baru saja kubersihkan dari sisa kebakaran terakhir. Kita akan baik-baik saja, katamu. Dan untuk sementara, aku percaya...