Bingung.
Namun entah kenapa, akhirnya selalu kembali ke titik yang sama.
Ada satu nama yang tak pernah benar-benar pergi, meski kehadirannya nyaris tak bisa disebut ada. Seseorang yang berkali-kali mengecewakan, yang tak konsisten, yang lebih sering menghilang daripada bertahan. Aneh rasanya menyadari bahwa hati ini bisa memberi kesempatan pada banyak orang, tapi selalu menyisakan tempat untuk yang satu itu, yang bahkan tak pernah menjanjikan apa-apa selain ketidakpastian.
Bukan karena yang lain kurang baik. Justru sebaliknya. Mereka datang dengan niat, dengan usaha, dengan ketulusan yang seharusnya cukup. Tapi hati ini sudah terlanjur membentuk pola aneh untuk mencintai yang sulit dan bertahan pada yang tak menetap. Seolah rasa yang tenang terasa asing, sementara rasa yang menyakitkan justru terasa familiar.
Saat paling melelahkan adalah kesadaran bahwa semua ini sebenarnya bisa dihentikan. Tidak ada yang memaksa untuk kembali. Tidak ada juga rantai yang benar-benar mengikat. Namun tetap saja, setiap kali mencoba melangkah lebih jauh, ada tarikan ke arah yang sama. Bukan karena harapan masih besar, melainkan karena kebiasaan terlalu dalam. Karena hati ini sudah terlalu sering pulang ke tempat yang sama, meski tahu tak ada yang menunggu.
Dan mungkin di situlah masalahnya. Bukan pada orang-orang yang datang dan pergi, tapi pada keberanian untuk benar-benar menutup pintu yang seharusnya sudah lama dikunci. Karena selama pintu itu tetap terbuka, sekecil apa pun celahnya, hati ini akan selalu kembali. Kembali pada seseorang yang entah ke mana, yang mungkin bahkan tak sadar betapa sering namanya menjadi akhir dari semua usaha.
Aku pun menyadari bahwa ini bukan tentang kurangnya cinta melainkan tentang cinta yang salah sasaran, yang terus dipelihara meski sudah berkali-kali membuktikan bahwa ia tak tahu cara tinggal. Dan sampai keberanian itu benar-benar datang, perasaan ini akan tetap terikat, bukan pada masa depan, tapi pada seseorang yang bahkan tidak berjalan ke arah yang sama.

Komentar
Posting Komentar